
Dari Pesantren ke Rumah: Pengalaman Saya sebagai Santri Khairunnas Madura

Saya masih ingat betul perasaan pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren Khairunnas Madura. Campur aduk antara semangat, takut, rindu, dan harapan. Jauh dari orang tua, hidup mandiri, serta mengikuti aturan yang ketat bukanlah hal mudah bagi saya. Namun seiring berjalannya waktu, pesantren justru menjadi tempat saya belajar mengenal diri, memahami makna disiplin, dan menata tujuan hidup.
Ketika tiba waktu liburan dan saya kembali ke rumah, saya menyadari satu hal penting: pesantren tidak hanya mengubah cara saya belajar, tetapi juga cara saya menjalani hidup.
Rindu Rumah yang Mengajarkan Arti Syukur
Selama di pesantren, rindu kepada orang tua dan keluarga adalah perasaan yang tidak bisa dihindari. Ada saat-saat saya ingin pulang, ingin merasakan masakan ibu, atau sekadar berbincang santai dengan ayah. Namun, pesantren mengajarkan saya untuk menahan rindu dan mengubahnya menjadi doa.
Saat akhirnya saya kembali ke rumah, perasaan itu berubah menjadi syukur yang mendalam. Saya lebih menghargai waktu bersama keluarga. Saya lebih sering membantu orang tua, lebih sabar menghadapi adik, dan lebih berhati-hati dalam berbicara. Pesantren membuat saya sadar bahwa keluarga adalah amanah besar yang sering kita abaikan.
Disiplin Pesantren yang Terbawa ke Rumah

Hidup di Pesantren Khairunnas Madura penuh dengan aturan. Bangun sebelum subuh, shalat berjamaah, mengaji, belajar, dan menjaga kebersihan sudah menjadi rutinitas harian. Awalnya terasa berat, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan.
Ketika pulang ke rumah, saya tetap terbiasa bangun pagi. Saya merasa ada yang kurang jika melewatkan shalat berjamaah atau membaca Al-Qur’an. Bahkan tanpa disuruh, saya mulai membantu pekerjaan rumah. Orang tua saya sering berkata, “Kamu sekarang lebih mandiri.” Kalimat itu sederhana, tetapi sangat berarti bagi saya.
Al-Qur’an yang Semakin Dekat dengan Kehidupan

Salah satu hal paling berharga yang saya dapatkan di pesantren adalah kedekatan dengan Al-Qur’an. Setiap hari kami belajar tahsin, tahfidz, dan muroja’ah. Al-Qur’an tidak lagi terasa berat, tetapi menjadi teman.
Di rumah, kebiasaan ini tetap saya jaga. Saya mencoba meluangkan waktu untuk membaca dan menghafal, meski suasananya berbeda. Saya juga mulai mengajak adik untuk mengaji bersama. Kadang saya diminta menjadi imam shalat di rumah atau di musholla sekitar. Dari situ saya belajar bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan.
Belajar Adab dalam Kehidupan Sehari-hari
Di Pesantren Khairunnas Madura, kami diajarkan bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Cara berbicara kepada guru, menghormati yang lebih tua, dan menjaga sikap kepada sesama adalah pelajaran yang selalu ditekankan.
Ketika saya kembali ke rumah, saya merasakan perubahan dalam diri saya. Saya lebih menjaga lisan, lebih sabar saat dinasihati orang tua, dan lebih sopan kepada tetangga. Pesantren mengajarkan saya bahwa akhlak bukan hanya untuk ditunjukkan di lingkungan pesantren, tetapi harus hidup di mana pun saya berada.
Berbagi Cerita, Bukan Membanggakan Diri
Saat di rumah, banyak keluarga dan tetangga yang bertanya tentang kehidupan di pesantren. Saya bercerita tentang kegiatan kami, tentang guru-guru yang sabar, serta tentang kebersamaan dengan teman-teman. Namun saya belajar untuk bercerita dengan niat berbagi, bukan untuk membanggakan diri.
Saya sadar bahwa menjadi santri bukanlah gelar, tetapi amanah. Setiap sikap saya di luar pesantren akan menjadi cerminan pendidikan yang saya terima.
Ujian di Lingkungan Rumah
Kembali ke rumah juga berarti menghadapi tantangan baru. Waktu luang yang lebih banyak, gawai, dan pergaulan menuntut saya untuk pandai menjaga diri. Tidak ada lagi jadwal ketat seperti di pesantren.

Namun kebiasaan yang saya pelajari di Pesantren Khairunnas Madura menjadi pegangan. Saya belajar mengatur waktu, membatasi diri, dan tetap menjaga ibadah. Dari sini saya memahami bahwa pesantren bukan hanya tempat, tetapi proses pembentukan karakter.
Pesantren dan Rumah, Dua Tempat yang Saling Melengkapi

Saya menyadari bahwa pesantren dan rumah memiliki peran yang sama penting. Pesantren mendidik, rumah menguatkan. Ketika keduanya saling mendukung, pendidikan menjadi lebih bermakna.
Orang tua saya selalu memberi dukungan agar kebiasaan baik yang saya bawa dari pesantren tetap terjaga. Dukungan inilah yang membuat saya semakin yakin untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Perjalanan yang Terus Berlanjut
Perjalanan saya sebagai santri Khairunnas Madura belum berakhir. Pulang ke rumah hanyalah salah satu fase dari proses panjang pembentukan diri. Pesantren telah mengajarkan saya arti disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab.
Dari pesantren ke rumah, saya belajar bahwa ilmu harus hidup dalam perbuatan. Semoga apa yang saya pelajari tidak berhenti di diri saya, tetapi bisa memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

