MENJAGA LISAN: FONDASI KECERDASAN EMOSIONAL DALAM PERTEMANAN ANAK

MENJAGA LISAN: FONDASI KECERDASAN EMOSIONAL DALAM PERTEMANAN ANAK

Penulis: Ustadzah Lilik Sofyah

Editor: Ustadzah Ratnatus Sa’idah

Dalam fase sekolah dasar, ruang kelas bukan sekadar tempat mengasah kognitif, melainkan laboratorium sosial pertama bagi anak. Di sinilah mereka belajar merajut pertemanan, berbagi tawa, dan memahami perbedaan. Namun, di balik keriuhan bermain, ada satu instrumen yang sering kali menjadi penentu harmoni atau retaknya sebuah hubungan: lisan.

Pertemanan adalah fondasi penting dalam proses tumbuh kembang. Melalui interaksi, anak belajar berempati dan bekerja sama. Namun, sering kali kedekatan tersebut menjadi renggang hanya karena satu ucapan yang kurang terjaga. Kata-kata yang dilepaskan tanpa filter pikiran dapat menjadi luka yang mendalam, membuat teman merasa rendah diri, sedih, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.

Satu hal yang perlu disadari oleh anak-anak adalah bahwa hati manusia itu rapuh dan tidak terlihat isinya. Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam sebuah ucapan meski dianggap candaan.

Sebagai pendidik dan orang tua, tugas kita adalah menanamkan pemahaman bahwa setiap kata memiliki dampak. Ucapan yang baik adalah benih kebahagiaan, sementara kata-kata kasar atau meremehkan adalah duri yang melukai. Mengajarkan anak untuk “berpikir sebelum berucap” adalah bentuk investasi karakter yang paling mendasar.

Luka fisik mungkin cepat mengering, namun luka di hati sering kali tersimpan dalam memori jangka panjang. Itulah sebabnya, membiasakan anak untuk bertanya pada diri sendiri sebelum berbicara “Apakah ucapanku akan menyenangkan atau justru menyakiti?” adalah langkah awal membangun kecerdasan emosional.

Dalam perspektif Islam, menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, melainkan cerminan iman (akhlak mulia). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini menegaskan pentingnya kejujuran dan kemanfaatan dalam setiap ucapan. Rasulullah SAW pun memberikan standar yang sangat tinggi: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” Pesan ini sangat relevan untuk diajarkan sejak dini agar anak terbiasa menyaring tutur katanya dalam interaksi sehari-hari.

5 Langkah Praktis Menjaga Lisan di Sekolah dan Rumah

Agar anak-anak lebih mudah menerapkan kebiasaan ini, berikut adalah panduan praktis yang bisa diterapkan:

  1. Jeda Sebelum Bicara

Ajarkan anak untuk berhenti sejenak sebelum merespons sesuatu. Latih mereka bertanya, “Apakah kata-kataku berguna?”. Jika ragu, ajarkan mereka bahwa diam adalah pilihan yang bijak.

  1. Kekuatan “Tiga Kata Ajaib”

Budayakan penggunaan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Kata-kata sederhana ini adalah pelumas yang menghaluskan gesekan dalam pergaulan.

  1. Hentikan Perundungan Verbal

Berikan pemahaman tegas bahwa mengejek, memberikan julukan buruk, atau membicarakan kekurangan teman bukanlah sebuah candaan, melainkan bentuk luka.

  1. Keberanian Meminta Maaf

Latih anak untuk berjiwa besar. Mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus adalah cara paling efektif untuk memulihkan hubungan yang retak.

  1. Keteladanan Orang Dewasa

Anak adalah peniru ulung. Guru dan orang tua harus menjadi cermin hidup. Jika mereka melihat orang dewasa di sekitarnya bertutur kata lembut, mereka akan menginternalisasi perilaku tersebut secara alami.

Menjaga lisan berarti menjaga martabat diri dan perasaan sesama. Ketika anak-anak mampu berkomunikasi dengan empati, sekolah akan menjadi lingkungan yang aman dan nyaman untuk bertumbuh. Dengan pendampingan yang penuh kasih sayang, kita sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan hati dan akhlak yang mulia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Icon
Scroll to Top