Jangan Ragu Memondokkan Anak

Jangan Ragu Memondokkan Anak

Seorang anak mungkin ada dalam paksaan orangtuanya. Seperti dipaksa mondok. Atau dipaksa menghafal AlQuran. Sementara ia belum paham soal tanggungjawab syariat. Secara teori psikologi perkembangan anak, tampak tidak baik. Dan memang, di lapangan implikasinya terlihat ketika ia dewasa.

Di usia remajanya, beberapa terkesan menjadi pemberontak.

Tapi hidup harus dilihat secara menyeluruh. Bukan satu dua episode saja. Dalam amatan saya, anak-anak yang “dipaksa” berkehidupan agama di usia kecil hingga remajanya oleh orang tuanya, sebagian memang justru mengalami kemerosotan di periode-periode awal pencarian jati dirinya. Istilahnya telat nakal.

Tapi di rentang masa berikutnya, kalau ia digambarkan dengan grafik, kurvanya biasanya naik kembali. Perlahan. Bahkan ia mengalahkan anak-anak yang masa kecilnya mungkin dimanja-manja tanpa dikenalkan dengan beban-beban syariat agama.

Seiring kematangan usia, saya mengira memori ketaatan yang dipaksakan dahulu, menjadi pengalaman berharga di usia tuanya untuk ia berubah menjadi manusia baik. Mereka sanggup memberi makna ulang terhadap “paksaan” orang tuanya dahulu. Bandingkan dengan mereka yang tak punya pengalaman itu. Apa yang mau dimaknai?

Pernyataan ini bukan hasil pengujian empiris memang. Tapi itu yang sering saya temui di lapangan. Setidaknya buat saya pribadi yang mengamati teman-teman di sekitar saya sendiri.

Ini menambah keyakinan saya tentang DOA DAN NIAT BAIK orang tua. Seperti preposisi yang saya yakini :

“orang tua boleh salah mendidik, tapi tidak akan pernah salah doa”.

Juga :

“hasrat/ keinginan anak akan dipatahkan oleh doa baik dari orang tuanya”.

Ya, bahwa se mbleset-mblesetnya anak, ia akan dipaksa kembali oleh doa doa baik yang istiqamah di baca orang tuanya.

Beruntung sekarang orang tua-orang tua berpendidikan, mampu mengelaborasi pendidikan islam bersama pemahaman psikologi perkembangan anak. Sehingga pendidikan Islam yang ketat bisa dikemas lebih baik dan anak tidak merasa dalam tekanan. Sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan fase perlawanan anak di masa pencarian jati dirinya.

Kerangka idealnya, akan lebih baik disiapkan betul pola pendidikan yang tak perlu ada efek samping fase “pemberontakan” itu.

Namun, berapa banyak yang faham soal ini. Sebagian besar, masih banyak yang mewarisi pola ketat pendidikan islam pada anak.

Dalam hal ini, asal ortu itu jujur lillahi ta’ala. Tidak untuk pamer-pameran keshalihan diri dan keluarga. Saya yakin, Allah ta’ala masih berkenan membantunya. Ortu mungkin akan merasakan fase “protes” anak itu kelak. Ya, anggap saja sebagai pelajaran yang harus diterima atas ketidaktepatan (kurang ilmu) dan ketidaksabaran dalam mendidik. Ini kehidupan dunia, mau tak mau sunnatullah akan tetap berlaku. Sesoleh apapun anda di hadapan Allah.

Tapi..

Sunnatullah itu tidak berjalan sendiri. Kita tidak berurusan dengan realita dunia tanpa keterlibatan Yang Maha Mengatur. Dan tidak ada yang lebih besar di mata Allah melebihi keikhlasan dalam beramal atas namaNya. Poin inilah barangkali. Yang menjadi alasan, mengapa ada anak remaja mokong, nakal, di keluarga baik-baik. Lalu pada akhirnya, ia kembali baik mengikuti jejak orang tuanya. Bahkan lebih baik lagi.

Wallahu A’lam.

Heri Latief
Santri Khidmat di Nurul Hayat

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Di Pesantren Khairunnas Santri akan difokuskan untuk menghafal Al-Quran dengan metode pembelajaran yang sudah banyak melahirkan Hafidz/ Hafidzah. Santri juga akan belajar dengan kegiatan kegiatan yang interaktif yang membantu Ananda untuk berfikir kreatif dan inovatif. Pesantren Khairunnas adalah Yayasan pendidikan yang didirikan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional terpercaya Nurul Hayat. SD Unggulan Surabaya, SMP Unggulan Malang Tuban Madiun, SMA Terbaik dan Unggulan Surabaya. Jangan Ragu Memondokkan Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top