Kelas yang Tertib, atau Kelas yang Takut?

Kelas yang Tertib, atau Kelas yang Takut?
Membaca Ulang Makna Manajemen Kelas

Penulis: Ustadzah Lilik Sofyah

Anak usia sekolah dasar, terutama di kelas rendah, memang punya karakter yang khas: aktif bergerak, rasa ingin tahunya besar, senang berbicara dan berinteraksi dengan teman, tapi kemampuan mengatur diri sendiri masih terus berkembang. Wajar kalau mereka mudah teralihkan perhatiannya, lupa aturan yang baru saja diingatkan, atau spontan bicara tanpa menunggu giliran. Bukan karena mereka nakal, tapi karena begitulah tahap perkembangan yang sedang mereka lalui.

Jean Piaget menyebut anak usia 7 hingga 11 tahun berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak mulai mampu berpikir logis tentang hal-hal yang konkret dan memahami aturan sosial, namun kemampuan mengatur diri, menahan impuls, serta berpikir abstrak masih terus berkembang secara bertahap (Piaget, 1952). Jadi ketika seorang anak lupa antre, spontan menyela, atau sulit diam dalam waktu lama, itu selaras dengan tahap perkembangan yang memang sedang ia jalani, bukan semata soal “nakal” atau “kurang disiplin”.

Karena karakter itulah, menertibkan anak sering jadi tantangan tersendiri bagi guru, apalagi di momen-momen di luar kelas yang pengawasannya lebih longgar, misalnya sebelum masuk kelas, saat antre mengambil air wudu, atau saat berjalan menuju suatu tempat. Justru di momen-momen seperti itulah kita sering melihat cara menertibkan yang sebenarnya kurang tepat: menyuruh diam dengan nada tinggi, atau memberi hukuman kecil supaya anak segera rapi. Cara-cara ini memang cepat membuat anak diam, tapi diam yang lahir dari rasa takut, bukan dari kesadaran akan dirinya sendiri.

Menertibkan anak yang aktif dan masih belajar mengendalikan diri memang jauh lebih menantang dibanding menertibkan orang dewasa, jadi wajar kalau godaan untuk mengambil jalan pintas itu selalu ada. Persoalannya, cara menertibkan yang keliru ini pelan-pelan bisa membuat anak menurut hanya ketika ada guru yang mengawasi, bukan karena mereka paham kenapa mereka perlu tertib. Lalu, sebenarnya apa makna tertib yang ingin kita bangun pada anak-anak, mengingat karakter mereka yang memang masih dalam proses belajar mengatur diri?

Pertanyaan ini penting untuk direnungkan bersama. Selama ini, ukuran keberhasilan sebuah kelas sering disederhanakan jadi satu kata saja: tertib. Begitu anak-anak duduk rapi, tidak ribut, dan semua mengerjakan tugasnya, rasanya urusan guru sudah selesai di situ. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk ditanyakan pada diri sendiri sebagai guru, yaitu “kenapa anak-anak ini diam?” Sebab diam yang terlihat sama dari luar itu sebenarnya bisa lahir dari dua sumber yang sangat berbeda: rasa nyaman, atau rasa takut. Dan hanya guru yang bersama mereka setiap hari yang benar-benar tahu, jawaban mana yang sedang terjadi di kelasnya sendiri.

Selama ini, manajemen kelas sering dimaknai sebagai cara mengendalikan murid agar tidak ramai, agar diam saat guru menjelaskan, agar tidak macam-macam saat pelajaran berlangsung. Padahal, manajemen kelas bukan soal mengontrol anak, melainkan soal menciptakan kondisi agar proses belajar benar-benar bisa terjadi, dengan tetap memperhatikan karakter anak usia sekolah dasar yang unik itu. Dua hal ini terdengar mirip, tapi hasilnya jauh berbeda. Kelas yang dikontrol membuat anak diam karena takut salah. Kelas yang dikelola dengan baik membuat anak diam karena ia sedang benar-benar mendengarkan, dan berani bicara ketika saatnya tiba.

Tiga Pilar yang Saling Menopang

Kondisi belajar yang sehat tidak muncul begitu saja. Setidaknya ada tiga pilar yang perlu berjalan bersamaan. Pertama, keteraturan kelas: rutinitas dan alur yang jelas sehingga anak tahu apa yang diharapkan dari mereka di setiap momen pembelajaran. Kedua, penataan fisik: ruang kelas yang mendukung anak untuk fokus sekaligus bisa berkolaborasi dengan temannya. Ketiga, dan yang paling sering terlewat, sisi sosial-emosional: rasa aman bagi anak untuk bertanya dan berani salah.

Ketiga pilar ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Kelas bisa terlihat rapi karena rutinitasnya jelas, tapi kalau anak tidak merasa aman untuk bertanya, proses belajarnya sebenarnya belum berjalan secara utuh. Sebaliknya, kelas yang suportif secara emosional tapi tanpa alur yang jelas juga mudah kehilangan arah. Ketiganya perlu berjalan berdampingan, sejalan dengan kebutuhan anak usia sekolah dasar yang masih dalam proses belajar mengenali dan mengelola diri mereka sendiri.

Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Kepatuhan

Membangun kesadaran anak tentang kapan harus diam, kapan harus mendengarkan, dan kapan giliran mereka untuk berpendapat, bukanlah aturan yang cukup ditempel di dinding lalu selesai. Kesadaran seperti ini perlu diingatkan berulang-ulang, terutama di awal semester atau di awal jenjang, misalnya dengan menegaskan bahwa ketika teman sedang bicara di depan, mata dan telinga untuk dia dulu, mulut boleh dipakai kalau sudah gilirannya.

Cara yang lebih efektif biasanya bukan lewat teguran keras, melainkan lewat pertanyaan reflektif yang mengajak anak berempati, misalnya menanyakan bagaimana perasaan mereka jika sedang bicara di depan tapi teman-temannya sibuk sendiri. Pertanyaan sederhana seperti itu cenderung lebih membekas dibanding sekadar perintah untuk diam, karena anak diajak memahami alasannya, bukan hanya mematuhi.

Ketika anak mulai paham bahwa diam saat orang lain bicara bukan berarti mereka tidak boleh berpendapat, melainkan karena setiap orang punya gilirannya masing-masing untuk didengarkan, di situlah kesadaran mulai tumbuh. Begitu pula sebaliknya, saat giliran mereka tiba, penting bagi guru untuk benar-benar mendengarkan tanpa buru-buru memotong atau mengoreksi, supaya anak turut merasakan makna dihargai ketika bicara. Dari proses semacam ini, kepatuhan yang terbentuk bukan lagi karena takut dimarahi, melainkan karena anak mengerti maknanya.

Anak Belajar dari yang Kita Ulangi, Bukan yang Kita Ucapkan

Ada satu hal lagi yang sering luput dari pembahasan soal ketertiban: mendidik tidak selalu harus lewat nasihat panjang. Justru sering kali anak belajar bukan dari seberapa banyak guru berbicara, melainkan dari apa yang gurunya ulangi, apa yang dicontohkan, dan apa yang dikonsistenkan setiap hari.

Seorang guru yang konsisten memungut sampah kecil yang tercecer, tanpa berpidato panjang soal kebersihan, sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada aturan “jangan buang sampah sembarangan”. Ia sedang melatih rasa tanggung jawab, secara diam-diam, lewat tindakan yang diulang dari hari ke hari. Anak-anak menangkap pesan itu bukan dari kata-kata, tapi dari pola yang mereka lihat berulang.

Prinsip yang sama berlaku untuk membangun ketertiban di kelas. Guru yang konsisten menerapkan isyarat yang sama, konsisten memberi giliran bicara yang sama, dan konsisten menunjukkan sikap mendengarkan yang sama, pada akhirnya mengajarkan ketertiban itu tanpa perlu berulang kali menaikkan suara. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat diulang, bukan apa yang sekali diucapkan.

 

Salam semangat untuk Guru di seluruh Dunia 😊

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top