Lima Masalah Anak Pesantren

Lima Masalah Anak Pesantren

Lima Masalah Anak Pesantren – Masalah anak pesantren itu aneh-aneh. Kami hidup di pesantren enam tahun. Bukan di Boarding School ya, ada perbedaannya. Nah berdasarkan pengalaman inilah saya ingin sharing. Di antara yang ingin saya sampaikan kenapa anak sering sakit di pesantren, atau yang sering ditanyakan penyakit kudis di pesantren, serta masalah yang sering terjadi di pesantren. Juga penyakit anak pesantren yang unik lainnya.

 

Masalah Ingin Pulang dari Pesantren

Lima Masalah Anak Pesantren – Nah ini penyakit anak pesantren yang pertama. Pasti semua orang tua sudah pernah merasakannya. Baru ditinggal sudah nelpon pengin pulang. Ditelpon terus menerus akhirnya orang tua kalah.

Padahal ini memang proses, anak sedang adaptasi dengan lingkungan yang baru. Sehingga ada rasa tidak nyaman. Apalagi menemukan teman-teman yang bermacam-macam.

Sebenarnya titik pentingnya ada di orang tua. Masalah yang sering terjadi di pesantren bukan karena anaknya, tapi justru orang tuanya. Biasanya kepikiran, atau ingin tahu keadaan secara berlebihan.

 

Sakit Perut di Pesantren

Masalah anak pesantren yang sering terjadi selanjutnya adalah sakit perut. Ini memang hampir semua anak pesantren mengalami. Entah sakit perut yang sangat, atau sudah punya sakit bawaan dari rumah.

Sebabnya ada tiga. Pertama, memang pola makan yang kurang bersih. Sehingga menjadikan anak terkena kuman. Kalau seperti ini pakailah alat makan sendiri, jangan sampai pinjam, walaupun gelas. Karena kadang tidak dicuci.

Kedua, makanan di pesantren biasanya ada unsur pedas. Nah anak tidak terbiasa tapi mencoba makan yang banyak sambalnya. Akhirnya perut shock. Bila ingin mencobanya Sedikit saja, jangan pedas-pedas.

Ketiga memang malas makan. Nah ini sering. Sebabnya adalah lauknya tidak terlalu sesuai dengan lidah. Wajar lah. Perlu adaptasi. Tapi jangan sampai tidak makan, keadaan Kesehatan akan lebih drop.

Untuk orang tua, izinkan anaknya beli lauk tambahan, atau bahkan orang tua mengirim anak lauk tambahan yang bisa menambah selera. Nanti lama-lama sang anak juga terbiasa dengan lauk yang ada di pesantren. Tapi intinya jangan sampai tidak makan.

 

Sakit Gudik

Selanjutnya adalah gudik bernanah, atau scabies, atau jarban, atau apalagi istilah yang ada di pesantren. Sejenis gatal-gatal yang terlihat di kulit dengan bintik bernanah.

Memang gatal, sakit, dan sangat mengganggu sekali. Karena biasanya berada di sela-sela anggota tubuh seperti siku, sela jari, lipatan-lipatan lain, bahkan kemaluan. Ya begitulah yang sering terjadi.

Tidak di pondok yang mahal, di pondok yang standard, biasanya ini memang sering terjadi. Konon ini merupakan ujian kelulusan anak bisa menerima ilmu di pondok pesantren. Tapi sebenarnya semua ini ada sebabnya.

Pertama dan yang paling utama adalah santri seringkali malas mencuci, sehingga bajunya kotor. Terutama celana dalam ya. Jangan ada side A side B, dibolak balik. Apalagi hampir semua pesantren sekarang memiliki laundry. Pokoknya ikuti standard saja, ganti baju pagi dan sore hari. Terutama dalaman.

Kedua, pengalaman kami lebih baik jika awal-awal masuk pesantren pakai sabun yang mengandung sulfur. Entah apa namanya terserah. Tapi memang lebih baik agar santri bisa lebih bersih.

Ketiga, bukan masalah airnya kotor, karena sekarang sudah sangat jarang menemukan pesantren airnya kotor. Tidak akan laku. Tapi yang sering terjadi adalah santrinya jarang mandi. Sehari hanya sekali. Nah ini bahaya.

Penyakit anak pesantren yang satu ini sangat pelik. Yang penting orang tua sabar aja ya. Karena masuk lingkungan baru, proses adaptasi biar betah, malas nyuci, mikirin rumah, malas mandi juga kuman masuk.

 

Barang Sering Hilang di Pesantren

Masalah yang sering terjadi di pesantren selanjutnya adalah barang yang hilang. Nah ini sebenarnya apakah jiwa santri yang suka ngambil atau memang teledor. Gini ceritanya,

Sebenarnya persoalan pokoknya adalah banyak barang yang di pondok bentuk, warna, jenis sama. Contoh sandal japit. Banyak yang sama. Sehingga perasaan, itu punya dia. Semua pakai perasaan, eh ternyata giliran yang terakhir, ternyata tidak kebagian. Hilang.

Begitu juga dengan kemeja. Maka seringkali dikasih nama. Sandal dikasih nama, baju dikasih nama. Kalau ternyata dikasih nama masih hilang, artinya kebangetan.

Pengalaman kami kalau sudah dikasih nama tidak diambil. Pokoknya jangan malu dikasih nama besar. Ini cara paling mudah mengatasi masalah anak pesantren yang umum terjadi.

Masalah Uang Anak Pesantren

Masalah anak pesantren selanjutnya adalah uang cepat habis. Ini saya alami sampai harus pinjam uang ke ustadz. Nah masalah ini sebenarnya karena anak belum bisa mengelola uang secara mandiri.

Jangan kaget ya kalau punya anak di pesantren terus nelpon minta uang. Nah itu lebih banyak karena anak pengin beli lauk tambahan. Plus tidak mau makan di dapur sehingga terus beli makan yang lebih enak.

Nah kalau Anda sebagai orang tua mengalami hal demikian, mintalah kepada anak untuk menulis semua pengeluaran. Belajar lah manajemen keuangan. Sehingga Anda bisa memberi nasehat plus tidak ada suudzon.

Ini lima masalah anak pesantren yang sering terjadi. Sebagai orang tua kita harus mengetahui dan mendapatkan solusi terbaiknya. Semoga menjadi manfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top